Hujan Malam Ini

Sudah tiga hari hujan menemani malam. Saya selalu suka hujan di malam hari. Juga hujan di pagi hari. Juga siang hari, sore, pagi menjelang siang, siang hampir sore, malam dengan langit masih oranye, atau apapun waktu dan suasana langit saat itu. Saya memang sangat suka hujan.

Tapi hujan di malam hari selalu berbeda. Apalagi hujan di rumah saya. Saya selalu suka bunyinya. Bunyi hujan yang jatuh di tanah, di aspal, di daun. Bunyinya renyah, entah apa yang membedakan bunyi hujan malam hari dengan waktu yang lainnya.

Biasanya saya mendengarnya dalam kegelapan. Saya akan mematikan lampu kamar, memandang langit-langit dan berlindung di balik selimut. Selimut berbahan kasar yang saya suka, karena ia mampu memberi sensasi gelitik yang saya rindukan dari handuk kumal kesayangan saya saat kecil dulu, saya menyebutnya “butut”. Ah, sudah bertahun-tahun lamanya saya bahkan tidak menggunakan kata itu lagi.

Kembali ke hujan, sepertinya saya sudah sangat sering membahas hujan. Mungkin orang-orang bosan. Tapi saya tidak. Selalu ada yang berbeda dari hujan. Selalu ada cerita di sana. Cerita berbeda dalam peristiwa jatuhnya gerombolan air yang sama sejak hujan pertama di bumi.

Makanya saya sebenarnya tidak begitu setuju dengan bagaimana kita sering menghubung-hubungkan hujan dengan kesedihan, ketidakberuntungan. Lihat saja lirik-lirik lagu yang ada, “I’ll be your sunshine after the rain”, ” I could keep your number for a rainy day” atau Dora the Explorer yang sering bilang “Hujan-hujan pergilah, datang lagi lain hari..”, setiap awan hujan hendak menghampiri. Lihat kan bagaimana hujan selalu salah?

Tulisan ini memang bukan untuk membela hujan. Toh hujan tidak butuh dibela. Saya hanya sedang ingin memberikan apresiasi lebih kepada hujan. Terlebih pada hujan di malam hari. Terlebih pada hujan di depan rumah saya. Terlebih pada hujan yang sekarang menemani saya mengetik tulisan ini. Terlebih pada.., ah sepertinya saya sudah berlebihan.

Terima kasih sudah menemani tanpa diminta

Advertisements

Kirim

Aku senang
Punya semua warna untuk membuatmu, mini-mu
Lama tak menyentuh krayon, lama tak menyentuhmu
Harusnya tidak rindu, tapi terasa juga

Kelakar menguap, jenuh muncul
Kosong meraja, sendu berkuasa

Ketik kata kunci
Telepati

Kini tidur
Mengirim citra

Mall

Jalan-jalan di mall.

Lagi-lagi saya saya di sini, di mall mewah yang bikin pusing kepala. Saya hendak bertemu teman, dan ya yang paling mudah memang bertemu di sini. Transportasinya lebih murah dan memang sangat dimudahkan untuk bisa sampai di sini. Hebat kan?

Entah mau bahas apa, saya hanya ingin cerita tentang macam-macam yang saya temukan saat saya duduk di salah satu restoran capat saji di mall ini. Makan dulu lah sebelum ke tempat ngopi tempat kami janjian. Makanan di sana mahal. Jadilah saya duduk sendiri sambil makan di kursi tinggi di sini. Kursi khusus untuk orang-orang yang makan sendiri seperti saya sepertinya. Anehnya kursinya benar-benar tinggi, dan posisinya aneh. Tapi saya lebih aneh, mengapa tetap saja memilih duduk di sana. Tapi tak mengapa, toh saya jadi dapat pemandangan yang tidak biasa saya temukan di restoran capat saji macam ini.

Sebenarnya kursi itu benar-benar mengintimidasi siapapun yang duduk di sana. Anda akan merasa bahwa semua orang dengan leluasa memandangi anda yang duduk dan makan sendiri disaat orang lain makan bersama teman atau keluarga mereka. Sambil tertawa atau sambil snapchat-an. Bukan ge-er tapi memang saya mendapati beberapa orang sesekali memandangi saya, ya tapi saya cuek aja. Mau apa lagi? masa gitu aja berantem atau malu. Toh belum tentu saya akan bertemu mereka lagi. Ya simpan saja malunya untuk lain waktu.

Tempat duduk saya bisa dikatakan strategis. Tepat di tengah restoran, menghadap ke luar ruangan dengan posisi lebih tinggi dari kursi-kursi yang lain. Dari situ saya bisa melihat semua pelanggan yang duduk di dalam sekaligus orang-orang yang lalu lalang di luar restoran. Cocoklah untuk seorang yang malas main hape sambil makan dan senang lihat ini itu seperti saya.

Lalu apa yang saya lihat? saya lihat banyak! Tidak bermaksud nyinyir, saya hanya menyebutkan apa yang jarang saya lihat. Mungkin tidak aneh buatmu, tapi gapapa toh kalo itu baru untuk saya? Jadilah saya lihat orang dengan blangkon sebagai fashion itemnya, saya lihat kelompok anak-amak SMA selepas sekolah yang main ke mall dengan alis rapih, bibir pink, rambut ikal dan tanpa bau matahari. Ada juga suami istri paruh baya yang sedang santai saja di mall.

Kalau kamu tanya apa inti tulisan ini, ya memang tidak ada. Saya hanya cerita, hal-hal yang menempel di kepala saya. Hal-hal yang membuat saya merasa memang uang selalu jadi penting. Se-naif apapun kita mau memalingkan wajah dan bilang bahwa kebahagiaan bukan hanya dari uang. Tapi kalau anda sedang punya waktu luang dan mau merunut-runut dari mana kebahagiaan datang, ya bisa saja anda bertemu dengan uang sebagai jawabannya.

Yah, palingan anda akan bilang saya terlalu cetek. Tak mengapa sih..yang jelas saya sekarang sedang mengetik sambil duduk di kedai kopi (yang tidak kopi-kopi amat) seharga 50ribuan segelas dengan pemandangan lampu kota dan akses colokan dan internet tanpa batas. Yah..begitulah uang..

Maaf

Blog jadi mainan baru bagi saya, menulis lagi dalam bentuk digital. Tidak mencari pembaca, tapi seru saja barang baru. Sebenarnya tidak baru-baru banget sih, dulu saya pernah punya blog juga tapi tidak rajin posting. Sekarang, saya mau coba rajin. Kita lihat saja bagaimana jadinya.

Hari ini saya bolos kerja, cuma karena bangun kesiangan dan mengganti semua plan saya hari ini. Beresin kamar. Padahal tadi saya baru saja membaca bahwa orang cenderung merasa ruang kerja, kamar, atau apapun disekelilingnya tidak cukup nyaman hanya saat ia harus mengerjakan pekerjaan yang lebih penting, menulis thesis misalnya. Saya pun demikian, ada pekerjaan yang saya tunda. Tapi gak ngaruh, akhirnya saya bersihkan juga kamar saya, dan tetap menunda pekerjaan.

Saat beberes kamar saya sempat berpikir mengenai apa yang akan saya tulis di blog hari ini. Tiba-tiba scene itu muncul, scene saat dia meminta maaf di depan rumah saya. Malam saat dia mengantar saya pulang setelah main-main bersama teman-teman kuliahnya.

Masalahnya tidak besar. Waktu di mall tempat kami jalan bersama yang lain, tidak sengaja saya berpapasan dengan teman SMA saya. Ngobrol sebentar, dan tiba-tiba saya tidak menemukannya. Taunya saya ditinggal. Ditinggalnya lumayan jauh, malahan saya bertemu teman-temannya duluan sebelum menemukannya. Sempat bete waktu itu (karena itu pertama kali saya bertemu teman-temannya dan saya belum kenal), dan dia sadar. Ditarik teman-temannya dijadikan alasan mengapa ia tidak menunggu saya barang sebentar, itu pun dikatakannya sambil marah. Setidaknya saya merasa dia menganggap betenya saya tidak beralasan.

Saya diam saja awalnya, masih terbawa kesal. Tapi lama-lama saya cair lagi, bukan karena masalah selesai tapi lebih karena saya tidak mau membuat dia malu membawa cewek gampang ngambek ke acara ngumpul-ngumpul. Gak mau lah saya jadi menghancur mood di acara orang. Nanti saja ngambeknya, pikir saya.

Tapi ternyata salah satu temannya sempat ngeh waktu saya ditinggal. Dia bilang, kenapa?  ditinggal yah tadi? parah nih emang..di situ kami tertawa cengar-cengir masam saja. Tapi setelah itu atmosfer kembali lagi. Biasa. Ngobrol lagi, lancar. Sampai acara selesai dan kita pulang.

Saat pulang saya tidak banyak bicara, mungkin malah tidak bicara. Tidak marah. Tidak ngamuk. Tidak menangis. Ya diam saja..sampai tiba di rumah.

Saat mau masuk rumah ia baru bilang “maaf ya..”. Hanya itu. Tapi maaf kali itu berbeda. Matanya yang berbicara. Klise memang, tapi maaf itu yang paling mengena. Di mata itu saya melihat bahwa dia memang tau kesalahannya, said sorry dan yang paling penting: asked for forgiveness.

Kadang maaf bukan perihal ask for forgiveness, hanya tentang tentang mengakui dan menyesal. Atau malah hanya agar urusan cepat selesai saja? Menurut saya itu hanya alasan egois, tidak memikirkan orang yang kita sakiti. Has or has not he/she healed? Padahal ask for forgiveness yang menurut saya jauh lebih penting..

Entah mengapa tiba-tiba scene itu muncul lagi, hari di mana saya melihat bahwa kata maaf memang pernah kita maknai dengan baik. When your eyes asked for forgiveness.

Suicide Squad

Suicide Squad adalah film penting bagi saya. Mengapa? Karena saya benar-benar menantikan datangnya film itu ke Indonesia dari sebelum trailernya muncul di Youtube. Seingat saya, waktu itu dikatakan bahwa film teresebut akan tayang di Indonesia Oktober 2016. Benar-benar tidak sabar ingin menonton. Tidak banyak ekspektasi, tapi saya tau saya harus nonton.

Sekarang Agustus 2016, dan filmnya sudah tayang di sini. Tinggal pilih mau nonton hari apa dan di bioskop kesayangan yang mana. Harusnya saya senang, tidak perlu tunggu sampai Oktober. Tapi namanya manusia, selalu ada yang bisa dikeluhkan. Kini yang saya keluhkan, mengapa filmnya tidak datang lebiiiiih cepat lagi? Sebelum saya dan dia selesai.

Sepele buat sebagian orang, tapi saya termasuk yang sebagian lainnya. Sudah terlalu excited untuk nonton film ini. Walaupun tidak pernah janjian namun saya sudah memperkirakan akan nonton bersamanya. Lebih seru nonton film superhero dengannya, karena kami memang orang yang susah diam saat menonton film macam ini.

Tak disangka, ternyata film ini lambat datang, perpisahan datang lebih dulu.

Sebenarnya sehari setelah film ini tayang, ia sempat mengajak saya untuk nonton bareng. Tapi saya tolak. Tidak bisa saja, karena saya tau rasanya tidak akan sama. Atmosfernya hambar. Saya hanya ingin menonton film yang saya suka dengan orang yang saya suka dalam suasana yang biasa. Tidak bisa lagi.

Mungkin untuk film ini, saya tunggu saja tayangnya di televisi.

WhatsApp

Dulu WhatsApp masangger tidak lebih dari sekedar pemutakhiran layanan SMS yang bisa berkirim foto, tidak makan banyak pulsa layaknya MMS. Dulu saya enggan untuk mengirim SMS di atas jam 9 malam kecuali kepada teman dekat, namun kini orang yang tidak kita kenal bahkan bisa tiba-tiba mengirimi kita pesan melalui WhatsApp kapanpun. Tidak ada rasa sungkan. Sejujurnya saya terganggu. Apalagi jika mereka menuntut balasan pesan mereka.

Fitur-fitur di WhatsApp seperti “last seen”, tulisan “online” yang muncul saat kita sedang membuka aplikasi, dua centang yang berubah warna menjadi warna biru saat pesan kita telah dibaca si penerima pesan membuat kita merasa punya privilege lebih dalam meminta balasan dari lawan bicara kita. Banyak hal yang bisa membantu kita berburuk sangka. Pada akhirnya menjadi too much information. Memudahkan tapi menyulitkan pada waktu yang bersamaan.

Akhirnya kini pengguna WhatsApp menjadi terbagi ke beberapa kelompok. Pengguna yang mengaktifkan layanan-layanan tersebut dan pengguna yang menonaktifkan segala layanan tersebut. Alasannya bisa banyak. Dulu saya mengaktifkannya karena butuh tahu apakah pesan saya sudah dibaca, apakah orang yang saya ajak bicara sedang online dan lain sebagainya. Namun pernah juga saya menonaktifkan segala layanan tersebut hanya karena sedang sembunyi dari dosen pembimbing skripsi. Ya, simpel saja. Itupun sudah dicurigai macam-macam oleh teman-teman saya.

Setelah “umpet-umpetan” dengan dosen selesai, saya kembali mengaktifkan segala layanan di atas. Namun beberapa bulan ini saya memutuskan untuk menonaktifkannya lagi. Lelah saja. Rasanya tidaklah perlu saya tau apakah pesan saya sudah sampai atau belum, sudah dibaca atau belum, mau dibalas atau tidak, macam SMS saja. Toh banyak juga yang melakukannya. Tapi ada satu hal yang membuat saya agak miris:

Ibu. Ibu saya adalah salah satu pengguna WhatsApp dari jutaan manusia yang ada di dalamnya. Makin mahir sekarang, sudah bisa berbagi foto, membuat video, forward broadcast dari satu grup ke grup lain. Agak malas juga saya tiap ibu menanyakan atau menelepon saya jika dilihatnya “last seen” saya di WhatsApp tidak berubah, padahal ya memang saya orang yang malas membuka WhatsApp kalau memang tidak perlu-perlu amat. Khawatir katanya.

Sampai akhirnya kini saya memutuskan untuk melepaskan segala layanan “last seen” dan tetek bengeknya, ibu saya sempat bertanya mengapa sekarang ia tidak bisa melihat kapan terakhir saya online lagi. Waktu itu saya diam saja, belum terpikirkan cara menjawabnya. Ia masih melanjutkan ceritanya, katanya waktu ia bisa lihat last seen saya, ia jadi tidak perlu meminta saya mengabarinya untuk tahu bahwa saya sudah sampai di kantor. Dengan melihat last seen saya yang sudah terupdate, ia jadi tau bahwa saya sudah sampai kantor dengan selamat. Ah, Ibu..

Serigala

Sore itu, Serigala lapar dan ingin makan panekuk.
Lunglai, langkah menemani rasa laparnya ke toko kue dekat rumahnya.
Sesampainya serigala di toko tersebut, ia hanya duduk melihat-lihat menu.
Teringat panekuk yang dimakannya dulu, saat sedang tidak lapar.

Back in that day,
Dingin..
Hari itu dingin..
Hati serigala kacau, banyak yang ingin disampaikan pada Serigalu..
Serigalu tau, tapi diam saja. seperti biasa

Serigala bilang, panekuk tidak kenyang bila dimakan berdua.
Panekuk Serigalu sulit dimengerti rasanya, sulit untuk dinikmati bersama..
Butuh banyak air mineral dan teh tawar panas untuk bantu menelannya
Terus begitu sampai kembung

Kini angin kencang, ladang gandum hancur..
Hujan badai.. panekuk sulit dipanggang
Badai si pembawa kabar gemar berbisik
Kali ini Serigala kawannya
Ia bilang Serigalu tidak kuat makan panekuk sendiri
Tapi piringnya selalu habis
Entah siapa yang membantunya

Serigala kembali melihat menu di tangannya
Sekarang ia sudah tidak lapar..