3:14 AM

Kodok bersautan, entah berunding apa. Mungkin senang esok masih hujan di sini.
Hai kodok, ayo bicarakan aku. Perempuan yng terkulai di dipan bambu dengan buku merahnya. Menulis dengan tinta emas di tangan kirinya.
Senyumnya hilang, tapi hatinya lebih tenang. Membaca suara-suara kodok, ingin tahu apa rencana para kodok esok hari.

Membacamu sama sulitnya dengan membaca kodok. Harus pandai mengorek untuk bisa mengerti. Terkadang bukan perihal tidak mengerti, kita hanya tidak mau mengakui apa yang kita pahami. Kita tetap tinggal dalam harapan. Harapan bahwa segala keinginan akan terwujud.

Advertisements

SOE

Dini hari di Soe.

Semua lampu sudah padam, hanya bersisa saya dan laptop yang saya nyalakan kembali karena gagal untuk tidur. Di satu kamar hotel 200ribuan di tengah pasar. Soe. Salah satu kabupaten di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ya, akhirnya saya sampai di sini.

Still everyday I think about you, I know for a fact is not your problem..
Saya ditemani lagu itu sekarang. Ya, saya selalu teringat tentangmu. Lebih-lebih di sini. Di pulau yang sering kau sebut-sebut. Tempat ini dingin, dengan langit berbintang dan bulan yang akan purnama dalam satu atau dua hari mendatang.

Ini malam ketiga saya. Belum banyak berkeliling, tapi saya benar-benar ingin. Mudah-mudahan bisa kemana-mana. Jelajahi sebanyak-banyaknya tempat yang saya bisa, yang saya mampu.

Trust

Kemarin sempat berbincang dengan seorang teman.
Ia mempersoalkan masalah trust.
Kepercayaan.
Sudah habis kepercayaan teman saya untuk temannya yang lain.
Hari itu ia menangis.
Kepercayaannya hilang.
Ia bilang ia tidak marah, ia hanya terlalu sedih.
Kepercayaan memang hal mewah bagi kami berdua,
“Apa lagi sih yang kita punya selain trust?” begitu katanya.
Katanya juga, menatap mata temannya saja, ia sudah tidak bisa.
She explained it well.
Saya kira itu pula yang saya rasakan sekarang.
I still feel the pain.

 

(5 November 2016)

 

Lirak-lirik

Coba lirik ke kanan
Ada Si Bima makan sisa sarapanmu

Coba lirik ke kiri
Ada Sakinah duduk selonjor bersihkan luka bernanah

Coba lihat dirimu
Duduk selonjor di kursi malas,
bermain dengan tusuk gigi,
bersihkan bekas sarapan
Sembari lirik kanan-kiri

Tidak ada yang istimewa..

Hujan di Yogya

Baru hujan di sini
Ya, di Yogya

Hujan air mata sejak dahulu
Sejak kata tidak lagi didengar

Kata
Hal yang dilontarkan untuk menjelaskan bentuk pikiran

Pikiran liar, pikiran bebas, pikiran nyeleneh,
pikiran futuristik, pikiran revolusioner

Sayang disayang,
Mereka yang harusnya mendengarkan
Mereka yang punya kuasa
Pikirannya kadaluarsa

 

(Yogyakarta, 26 April 2015)

Kita Tidak Pernah Belajar

Kita tidak pernah belajar. Selalu menjadi anak pembangkang dan orangtua yang tidak mengakui kesalahannya. Bisu. Menjauh. Keras.

Makin lama semua orang makin mengeras. Saya pun demikian.

Kita hanya kumpulan orang bodoh. Kecewa. Marah. Memaafkan. Melupakan. Kecewa lagi. Kita memang tidak pernah belajar.

Saya tidak terkecuali. Saya tidak pernah belajar. Buktinya tulisan saya tidak membaik, kosa kata mampet, jauh dari kaya. Tidak puitis, tidak membelit. Saya maunya membelit macam ular. Ingin pakai berbagai kata yang tidak akan kau temukan di pesan singkat atau chat history mu:
Relung
Berpijak
Terenyuh
Muslihat
Meratap
Kalut
Baginda
Sekat
Terlarut
Mengayuh
Belikat
Asa
Permaisuri
Ugahari
Nelangsa
Banal
Pesiar

Maunya jadi penyair, tapi jauh dari puitis. Ingin bisa serius. Tapi pikiran ini selalu terbius. Terbius harapan. Harapan kosong yang bernama optimisme. Optimis semua membaik sendiri.

Kita tidak pernah belajar.

(Jakarta, 11 Mei 2015)

Dunia Ini Penuh Kesalahpahaman

Dunia ini penuh kesalahpahaman. Kita memupuknya dengan diam. Menyiramnya dengan rumor. Menuainya dengan cibiran.

Kita bukan dan tidak akan pernah jadi yang sempurna, tapi kebohongan memperparah jalan cerita.

Kita menempel perangko dengan minyak. Memadamkan api dengan bensin. Membebat luka dengan bara. Tiada yang sampai tujuan.

Kita suka menipu. Suka yang palsu. Toh dunia memang penuh kesalahpahaman.