Kita Tidak Pernah Belajar

Kita tidak pernah belajar. Selalu menjadi anak pembangkang dan orangtua yang tidak mengakui kesalahannya. Bisu. Menjauh. Keras.

Makin lama semua orang makin mengeras. Saya pun demikian.

Kita hanya kumpulan orang bodoh. Kecewa. Marah. Memaafkan. Melupakan. Kecewa lagi. Kita memang tidak pernah belajar.

Saya tidak terkecuali. Saya tidak pernah belajar. Buktinya tulisan saya tidak membaik, kosa kata mampet, jauh dari kaya. Tidak puitis, tidak membelit. Saya maunya membelit macam ular. Ingin pakai berbagai kata yang tidak akan kau temukan di pesan singkat atau chat history mu:
Relung
Berpijak
Terenyuh
Muslihat
Meratap
Kalut
Baginda
Sekat
Terlarut
Mengayuh
Belikat
Asa
Permaisuri
Ugahari
Nelangsa
Banal
Pesiar

Maunya jadi penyair, tapi jauh dari puitis. Ingin bisa serius. Tapi pikiran ini selalu terbius. Terbius harapan. Harapan kosong yang bernama optimisme. Optimis semua membaik sendiri.

Kita tidak pernah belajar.

(Jakarta, 11 Mei 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s