Mall

Jalan-jalan di mall.

Lagi-lagi saya saya di sini, di mall mewah yang bikin pusing kepala. Saya hendak bertemu teman, dan ya yang paling mudah memang bertemu di sini. Transportasinya lebih murah dan memang sangat dimudahkan untuk bisa sampai di sini. Hebat kan?

Entah mau bahas apa, saya hanya ingin cerita tentang macam-macam yang saya temukan saat saya duduk di salah satu restoran capat saji di mall ini. Makan dulu lah sebelum ke tempat ngopi tempat kami janjian. Makanan di sana mahal. Jadilah saya duduk sendiri sambil makan di kursi tinggi di sini. Kursi khusus untuk orang-orang yang makan sendiri seperti saya sepertinya. Anehnya kursinya benar-benar tinggi, dan posisinya aneh. Tapi saya lebih aneh, mengapa tetap saja memilih duduk di sana. Tapi tak mengapa, toh saya jadi dapat pemandangan yang tidak biasa saya temukan di restoran capat saji macam ini.

Sebenarnya kursi itu benar-benar mengintimidasi siapapun yang duduk di sana. Anda akan merasa bahwa semua orang dengan leluasa memandangi anda yang duduk dan makan sendiri disaat orang lain makan bersama teman atau keluarga mereka. Sambil tertawa atau sambil snapchat-an. Bukan ge-er tapi memang saya mendapati beberapa orang sesekali memandangi saya, ya tapi saya cuek aja. Mau apa lagi? masa gitu aja berantem atau malu. Toh belum tentu saya akan bertemu mereka lagi. Ya simpan saja malunya untuk lain waktu.

Tempat duduk saya bisa dikatakan strategis. Tepat di tengah restoran, menghadap ke luar ruangan dengan posisi lebih tinggi dari kursi-kursi yang lain. Dari situ saya bisa melihat semua pelanggan yang duduk di dalam sekaligus orang-orang yang lalu lalang di luar restoran. Cocoklah untuk seorang yang malas main hape sambil makan dan senang lihat ini itu seperti saya.

Lalu apa yang saya lihat? saya lihat banyak! Tidak bermaksud nyinyir, saya hanya menyebutkan apa yang jarang saya lihat. Mungkin tidak aneh buatmu, tapi gapapa toh kalo itu baru untuk saya? Jadilah saya lihat orang dengan blangkon sebagai fashion itemnya, saya lihat kelompok anak-amak SMA selepas sekolah yang main ke mall dengan alis rapih, bibir pink, rambut ikal dan tanpa bau matahari. Ada juga suami istri paruh baya yang sedang santai saja di mall.

Kalau kamu tanya apa inti tulisan ini, ya memang tidak ada. Saya hanya cerita, hal-hal yang menempel di kepala saya. Hal-hal yang membuat saya merasa memang uang selalu jadi penting. Se-naif apapun kita mau memalingkan wajah dan bilang bahwa kebahagiaan bukan hanya dari uang. Tapi kalau anda sedang punya waktu luang dan mau merunut-runut dari mana kebahagiaan datang, ya bisa saja anda bertemu dengan uang sebagai jawabannya.

Yah, palingan anda akan bilang saya terlalu cetek. Tak mengapa sih..yang jelas saya sekarang sedang mengetik sambil duduk di kedai kopi (yang tidak kopi-kopi amat) seharga 50ribuan segelas dengan pemandangan lampu kota dan akses colokan dan internet tanpa batas. Yah..begitulah uang..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s