Maaf

Blog jadi mainan baru bagi saya, menulis lagi dalam bentuk digital. Tidak mencari pembaca, tapi seru saja barang baru. Sebenarnya tidak baru-baru banget sih, dulu saya pernah punya blog juga tapi tidak rajin posting. Sekarang, saya mau coba rajin. Kita lihat saja bagaimana jadinya.

Hari ini saya bolos kerja, cuma karena bangun kesiangan dan mengganti semua plan saya hari ini. Beresin kamar. Padahal tadi saya baru saja membaca bahwa orang cenderung merasa ruang kerja, kamar, atau apapun disekelilingnya tidak cukup nyaman hanya saat ia harus mengerjakan pekerjaan yang lebih penting, menulis thesis misalnya. Saya pun demikian, ada pekerjaan yang saya tunda. Tapi gak ngaruh, akhirnya saya bersihkan juga kamar saya, dan tetap menunda pekerjaan.

Saat beberes kamar saya sempat berpikir mengenai apa yang akan saya tulis di blog hari ini. Tiba-tiba scene itu muncul, scene saat dia meminta maaf di depan rumah saya. Malam saat dia mengantar saya pulang setelah main-main bersama teman-teman kuliahnya.

Masalahnya tidak besar. Waktu di mall tempat kami jalan bersama yang lain, tidak sengaja saya berpapasan dengan teman SMA saya. Ngobrol sebentar, dan tiba-tiba saya tidak menemukannya. Taunya saya ditinggal. Ditinggalnya lumayan jauh, malahan saya bertemu teman-temannya duluan sebelum menemukannya. Sempat bete waktu itu (karena itu pertama kali saya bertemu teman-temannya dan saya belum kenal), dan dia sadar. Ditarik teman-temannya dijadikan alasan mengapa ia tidak menunggu saya barang sebentar, itu pun dikatakannya sambil marah. Setidaknya saya merasa dia menganggap betenya saya tidak beralasan.

Saya diam saja awalnya, masih terbawa kesal. Tapi lama-lama saya cair lagi, bukan karena masalah selesai tapi lebih karena saya tidak mau membuat dia malu membawa cewek gampang ngambek ke acara ngumpul-ngumpul. Gak mau lah saya jadi menghancur mood di acara orang. Nanti saja ngambeknya, pikir saya.

Tapi ternyata salah satu temannya sempat ngeh waktu saya ditinggal. Dia bilang, kenapa?  ditinggal yah tadi? parah nih emang..di situ kami tertawa cengar-cengir masam saja. Tapi setelah itu atmosfer kembali lagi. Biasa. Ngobrol lagi, lancar. Sampai acara selesai dan kita pulang.

Saat pulang saya tidak banyak bicara, mungkin malah tidak bicara. Tidak marah. Tidak ngamuk. Tidak menangis. Ya diam saja..sampai tiba di rumah.

Saat mau masuk rumah ia baru bilang “maaf ya..”. Hanya itu. Tapi maaf kali itu berbeda. Matanya yang berbicara. Klise memang, tapi maaf itu yang paling mengena. Di mata itu saya melihat bahwa dia memang tau kesalahannya, said sorry dan yang paling penting: asked for forgiveness.

Kadang maaf bukan perihal ask for forgiveness, hanya tentang tentang mengakui dan menyesal. Atau malah hanya agar urusan cepat selesai saja? Menurut saya itu hanya alasan egois, tidak memikirkan orang yang kita sakiti. Has or has not he/she healed? Padahal ask for forgiveness yang menurut saya jauh lebih penting..

Entah mengapa tiba-tiba scene itu muncul lagi, hari di mana saya melihat bahwa kata maaf memang pernah kita maknai dengan baik. When your eyes asked for forgiveness.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s