WhatsApp

Dulu WhatsApp masangger tidak lebih dari sekedar pemutakhiran layanan SMS yang bisa berkirim foto, tidak makan banyak pulsa layaknya MMS. Dulu saya enggan untuk mengirim SMS di atas jam 9 malam kecuali kepada teman dekat, namun kini orang yang tidak kita kenal bahkan bisa tiba-tiba mengirimi kita pesan melalui WhatsApp kapanpun. Tidak ada rasa sungkan. Sejujurnya saya terganggu. Apalagi jika mereka menuntut balasan pesan mereka.

Fitur-fitur di WhatsApp seperti “last seen”, tulisan “online” yang muncul saat kita sedang membuka aplikasi, dua centang yang berubah warna menjadi warna biru saat pesan kita telah dibaca si penerima pesan membuat kita merasa punya privilege lebih dalam meminta balasan dari lawan bicara kita. Banyak hal yang bisa membantu kita berburuk sangka. Pada akhirnya menjadi too much information. Memudahkan tapi menyulitkan pada waktu yang bersamaan.

Akhirnya kini pengguna WhatsApp menjadi terbagi ke beberapa kelompok. Pengguna yang mengaktifkan layanan-layanan tersebut dan pengguna yang menonaktifkan segala layanan tersebut. Alasannya bisa banyak. Dulu saya mengaktifkannya karena butuh tahu apakah pesan saya sudah dibaca, apakah orang yang saya ajak bicara sedang online dan lain sebagainya. Namun pernah juga saya menonaktifkan segala layanan tersebut hanya karena sedang sembunyi dari dosen pembimbing skripsi. Ya, simpel saja. Itupun sudah dicurigai macam-macam oleh teman-teman saya.

Setelah “umpet-umpetan” dengan dosen selesai, saya kembali mengaktifkan segala layanan di atas. Namun beberapa bulan ini saya memutuskan untuk menonaktifkannya lagi. Lelah saja. Rasanya tidaklah perlu saya tau apakah pesan saya sudah sampai atau belum, sudah dibaca atau belum, mau dibalas atau tidak, macam SMS saja. Toh banyak juga yang melakukannya. Tapi ada satu hal yang membuat saya agak miris:

Ibu. Ibu saya adalah salah satu pengguna WhatsApp dari jutaan manusia yang ada di dalamnya. Makin mahir sekarang, sudah bisa berbagi foto, membuat video, forward broadcast dari satu grup ke grup lain. Agak malas juga saya tiap ibu menanyakan atau menelepon saya jika dilihatnya “last seen” saya di WhatsApp tidak berubah, padahal ya memang saya orang yang malas membuka WhatsApp kalau memang tidak perlu-perlu amat. Khawatir katanya.

Sampai akhirnya kini saya memutuskan untuk melepaskan segala layanan “last seen” dan tetek bengeknya, ibu saya sempat bertanya mengapa sekarang ia tidak bisa melihat kapan terakhir saya online lagi. Waktu itu saya diam saja, belum terpikirkan cara menjawabnya. Ia masih melanjutkan ceritanya, katanya waktu ia bisa lihat last seen saya, ia jadi tidak perlu meminta saya mengabarinya untuk tahu bahwa saya sudah sampai di kantor. Dengan melihat last seen saya yang sudah terupdate, ia jadi tau bahwa saya sudah sampai kantor dengan selamat. Ah, Ibu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s