Saya Left Group

Maaf, saya left group
Sering saya berkata bahwa aneh kalo orang-orang yang marah sedikit langsung left group. Tapi sekarang saya ada di posisi itu. Tidak marah, dan bukan “cukup kesal”, tapi “sudah terlanjur kecewa” sampai-sampai memutuskan untk left group.
Grup ini adalah grup yang saya anggap penting, yang saya sayangi semua orang yang ada di dalamnya. Rasanya lelah saya harus selalu jadi “yang pengen ketemu” atau jadi “pembawa suasana ramai” di grup. Kadang orang jadi terlalu nyaman dengan kondisi itu. Tak ingat lagi bagaimana rasanya jika orang semacam itu hilang dari grup.
Lucunya orang-orang yang lebih berperan dalam memberi alasan kuat saya untuk left, malah anteng-anteng saja..heran juga.. artinya memang alasan tepat bagi saya untuk left.


Itu tulisan yang saya ketik di layar handphone 5″ saya pada 9 Maret 2016 yang lalu. Banyak kekecewaan di dalamnya. Sayapun masih ingat bagaimana perasaan saya waktu itu saat saya mengetik tulisan ini, di salah satu bioskop di bilangan Jakarta Selatan sore ini. Tulisan itu memang belum rampung, apalagi untuk di posting di sini. Namun tulisan kali ini bernada beda. Walupun tidak sepenuhnya berkebalikan, tapi tetap saja, lebih positif.

Kini keadaannya “agak” berbeda. Saya yang waktu itu keluar dari grup, kini kembali di dalam grup. Beberapa meminta maaf, merasa ada yang salah. Saat bulan puasa ada yang berinisiatif untuk bertemu, saya tidak banyak berkomentar atas ide tersebut. Kalo ada ya boleh, gak ada juga gak masalah, toh ternyata ujung-ujungnya pun saya tidak datang. Tidak disengaja kok, jangan pikir saya jahat. Tapi kalaupun saya bisa, tetap saja janggal rasanya. Karena saya tau bagaimana diri saya (memang tidak sepenuhnya tau, tapi untuk hal ini saya benar-benar tau) jika bertemu teman baik di saat sedang marah. Jutek? bisa sih. Tapi saat saya terlalu capek untuk jutek, ujung-ujungnya saya akan melupakan rasa marah saya dan kembali bawel, kayak gak ada apa-apa. Nah, itu yang saya hindari. Rasanya masih ingin marah saja, saya rasa saya masih pantas marah. Ingin memperlihatkan bagaimana saya kecewa. Lebay? Memang. Tapi lebay terkadang perlu (sepertinya).

Akhirnya ada ide baru, bebarapa teman saya berniat untuk datang ke rumah saya di hari ke tiga lebaran. Masa saya tolak? gak mungkin kan. Lagipula saya pun senang kalau mereka mau datang. Benar saja, setelah mereka sampai, saya benar-benar seperti orang yang tidak pernah marah sama sekali. Main seperti biasa, katawa-ketawa seperti biasa. Saya bete dengan diri sendiri. Tapi gak apa-apa juga sih. Saya rasa sudah cukup marahnya. Saya juga senang, akhirnya saya memposting tulisan ini dengan ending yang berbeda.

(11 Juli 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s