Duka Kawan Lama

Kemarin papa teman lama saya meninggal, dan hari ini saya datang ke rumahnya. Sekedar untuk turut berbela sungkawa atas kehilangannya. Saya termasuk dekat dengan teman saya ini saat SMA. sering main dan cerita bareng lah. Tapi sayangnya semenjak kuliah sudah jarang berbagi cerita lagi. Beda kuliah, beda teman bermain. Out of sight, out of mind. Begitu kira-kira hubungan saya dengan teman saya ini. Bukan sifat yang bisa saya banggakan dari diri saya, namun memang begitu adanya.

Tapi tiba-tiba minggu lalu saat saya sedang liburan ke Belitung, teman saya ini tiba-tiba muncul di grup chatting dan menyapa saya. Bukan main kagetnya! Senang, terkejut, kangen, sedih semua menjadi satu. Lega saja rasanya ada teman lama yang hadir lagi ke rutinitas-tai-kucing-kehidupan saya. Mungkin bisa bawa hawa-hawa baru, hawa nostalgia dibarengi hawa cerita hari ini.

Hari itu kami banyak bercerita dan janjian untuk bertemu lain waktu. Saat ini saya sedang sering ke luar kota dan tidak punya waktu untuk bertemu, dan muncullah berita duka tersebut. Tak disangka ternyata kami harus bertemu dengan kondisi semacam ini.

Rumahnya masih rumah yang dulu. Rumah besar di dalam gang sempit yang dulu sering saya inapi saat SMA. sering main ke sana sampai kenal dengan adik-adiknya. Kini adik-adiknya sudah besar. Pangling saya dibuatnya. Namun lebih pangling lagi saat saya bertemu teman saya.

Dia duduk di sana, di ruang tamu menatap entah apa. Saat saya duduk di hadapannya, ia tidak mengenali saya, begitu pula dengan teman-teman saya yang sudah datang lebih dulu. Stress. Terpukul, tidak hanya karena kehilangan papanya saja, pasti banyak hal lainnya. Hanya itu yang saya pikirkan. Tidak banyak membantu, saya hanya bisa menangis di sampingnya sembari berkata “nangis aja, dikeluarin aja..” Entah berapa banyak tissue yang saya habisi hanya untuk diri saya sendiri.

Yang saya tahu, ia orang yang ceria namun tertutup. Katanya juga, sehari sebelum kepergian papanya, hubungan percintaannya sedang tidak berjalan mulus. Tidak heran jika kepulangan papanya yang juga tiba-tiba menjadi kejutan yang amat menyesakkan hati dan pikirannya. Mungkin segala sesuatu sedang berat bagi teman saya yang satu ini. Mudah-mudahan beberapa sayatan halus yang saya lihat ada di tangannya bukan sesuatu yang ada karena kesengajaan. Mudah saja berpikir macam-macam bila anda jadi saya.

Beberapa kali ia pingsan, saya hanya bisa berada di sampingnya. Tidak lama. Dan saya seperti melihat diri saya sendiri. Saya bisa jadi seperti itu. Sifat kami tidak jauh berbeda, begitu pula dengan cara kami menyelesaikan masalah. Saat saya di rumahnya, tidak henti air mata saya mengalir, entah untuk siapa air mata itu. Saya tidak tau siapa yang saya tangisi, teman saya atau diri saya sendiri..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s